Wajah Damai yang Dipaksakan: Analisis Politik Citra di Papua Setiap Pejabat Jakarta Datang.
Setiap kali pejabat dari Jakarta berkunjung ke Papua, kota tiba-tiba berubah. Jalan-jalan disapu, taman-taman dipercantik, spanduk sambutan bertebaran, dan rakyat diarahkan untuk tersenyum. Di waktu bersamaan, turnamen olahraga, festival budaya, hingga kegiatan kampus bermunculan serentak di luar jadwal biasanya. Sekilas, semua tampak sebagai bentuk kesiapan dan kebanggaan rakyat Papua menyambut tamu negara. Namun di balik keramaian itu, ada sesuatu yang lebih sunyi sedang berlangsung: Papua sedang disterilkan—bukan dari sampah, tapi dari suaranya sendiri.
Politik Citra dan Ketakutan Pusat Fenomena bersih-bersih kota dan kegiatan massal itu bukanlah sekadar bentuk antusiasme, melainkan bagian dari politik citra. Pemerintah daerah berlomba menampilkan wajah “Papua yang damai dan stabil”, agar pejabat pusat pulang dengan kesan bahwa semua berjalan baik-baik saja. Tapi realitas di lapangan jauh berbeda. Di balik baliho ucapan selamat datang, masih ada keluhan rakyat tentang harga bahan pokok, kesenjangan pelayanan publik, hingga konflik sosial yang tak terselesaikan. Semua itu disembunyikan di balik senyum yang dipaksakan dan seremonial yang megah.
“Negara tidak datang untuk mendengar, tapi untuk memastikan bahwa yang terdengar hanyalah pujian.”
Festival dan Turnamen sebagai Distraksi Dalam banyak momen politik, kegiatan seperti turnamen, festival budaya, atau konser sering muncul mendadak. Pemerintah dan lembaga kampus sibuk memeriahkan suasana, seolah kegembiraan kolektif menjadi bukti keberhasilan pembangunan. Namun bagi A.S.U.T, semua itu adalah bentuk distraksi sosial. Ketika rakyat mulai gelisah dan kritis, mereka dialihkan dengan hiburan massal. Musik, olahraga, dan pesta dijadikan penenang sementara bagi kesadaran publik. Teori James C. Scott tentang “hidden transcript” menjelaskan bahwa kekuasaan sering kali menekan ekspresi rakyat dengan cara simbolik—mengganti kritik dengan pertunjukan, mengganti kesadaran dengan seremonial. Di Papua, praktik ini terlihat nyata.
“Ketika rakyat lapar, mereka diberi panggung; bukan roti.”
Kampus yang Kehilangan Arah Kampus, yang seharusnya menjadi ruang kritis dan bebas berpikir, kini ikut larut dalam pementasan politik citra. Mahasiswa diarahkan menjadi panitia penyambut pejabat, bukan penanya dalam ruang diskusi. Dosen sibuk menyiapkan seminar formal, bukan ruang refleksi kritis.
🜂 Tentang Penulis: A.S.U.T (Aspirasi Suara untuk Tanah/Tuhan) adalah gerakan literasi dan kesadaran sosial yang lahir di Tanah Papua, berfokus pada upaya membangun kesadaran rakyat melalui tulisan, refleksi, dan aksi kultural.