Membaca Strategi Media: Bagaimana Etika Mahasiswa Digunakan untuk Menutupi Persoalan Negara
Dalam dinamika politik dan media, peralihan isu adalah hal yang lumrah terjadi. Salah satu fenomena yang kerap muncul adalah pembingkaian (framing) media terhadap aksi protes mahasiswa. Ketika sebuah forum diskusi dibubarkan oleh mahasiswa yang marah atas berbagai persoalan negeri, fokus pemberitaan sering kali mengalami pergeseran yang dramatis.
Bukannya membedah akar masalah yang memicu kemarahan tersebut, media justru mengarahkan lampu sorotnya pada etika dan sopan santun mahasiswa. Strategi komunikasi politik ini dirancang dengan rapi untuk mengalihkan perhatian publik melalui beberapa tahapan berikut:
1. Strategi Kill the Messenger (Menyerang Pembawa Pesan)
Daripada berdebat atau menjawab substansi kritik yang dibawa oleh mahasiswa, narasi media digeser untuk menyerang personalitas atau tindakan para demonstran.
- Narasi yang dibangun: "Mahasiswa anti-dialog," "tindakan tidak sopan," atau "merusak esensi kebebasan berpendapat."
- Dampak: Publik yang awalnya bersimpati pada substansi tuntutan, perlahan berubah menjadi antipati karena fokus pada cara penyampaian yang dianggap anarkis.
2. Praktik Tone Policing (Mengadili Cara Bicara)
Tone policing adalah taktik mengabaikan validitas kemarahan seseorang hanya karena cara penyampaiannya dianggap tidak memenuhi standar "kesopanan" elite.
- Media mengeksploitasi aspek emosional mahasiswa di lapangan.
- Akibatnya, esensi penting mengenai bobroknya persoalan negeri terkubur oleh perdebatan tidak berujung tentang mana yang "etis" dan "tidak etis."
3. Manajemen Pengalihan Isu (Deflection)
Ruang perhatian publik (public attention span) sangat terbatas. Media yang dikendalikan kepentingan politik paham betul cara memanfaatkan celah ini.
- Dengan membanjiri ruang publik lewat berita seputar "etika mahasiswa" selama berhari-hari, isu utama negara secara alami akan kehilangan momentumnya.
- Ketika momentum hilang, amarah publik mendingin, dan pihak yang dikritik berhasil lolos dari jerat akuntabilitas.

Kesimpulan:
Pembingkaian ini adalah upaya sistematis untuk memutarbalikkan peran. Dengan menyoroti pelanggaran etika mahasiswa, pihak yang dikritik berhasil memosisikan diri sebagai "korban" (victim), sementara mahasiswa yang memperjuangkan keadilan justru dicap sebagai "pelaku" kekacauan.