"SURAT TERBUKA UNTUK PRABOWO: TANAH ADAT PAPUA BUKAN TUMBAL BIOFUEL!"
Oleh: Muhammad Ridwan Kambori Putra Asli Papua (president L.A.P)
Literasi Anak Papua Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut "Sawit adalah pohon" untuk menjustifikasi penggundulan hutan Papua demi biofuel bukan sekadar kekeliruan ilmiah—itu adalah penghinaan terhadap literasi ekologi masyarakat adat. Mengatakan sawit bisa menggantikan hutan primer kami sama saja dengan mengklaim bahwa beton bisa menggantikan nyawa. Sebagai putra asli Papua yang tumbuh besar dengan napas hutan, saya tegaskan: Papua tidak butuh gurun hijau bernama sawit. Kami butuh hutan kami kembali!
Hutan adalah Perpustakaan, Sawit adalah Pembakaran Buku Bagi saya, penggiat literasi, hutan Papua adalah perpustakaan terbesar dan tertua di dunia. Di sana, anak-anak adat membaca tanda alam, mengenal bahasa burung Cendrawasih, dan memanen kearifan dari pohon-pohon purba. Ketika bapak menebang hutan itu dan menggantinya dengan sawit monokultur, bapak sedang melakukan pembakaran buku massal terhadap pengetahuan lokal kami. Sawit tidak mengajarkan kami cara menjaga air; sawit justru mencuri air kami. Satu pohon sawit rakus menghisap hingga 30 liter air setiap hari, sementara pohon Sagu kami justru menjadi tandon air alami yang mencegah banjir dan kekeringan.
Sagu adalah Daulat, Sawit adalah Budak Bapak bicara soal triliunan rupiah dari biofuel, tapi mari kita bicara fakta di tanah ulayat:
• Sagu adalah Kemerdekaan: Satu batang Sagu memberi kami 400 kg pati. Sagu tumbuh tanpa perlu pestisida, tanpa perlu tunduk pada tengkulak. Sagu membuat kami kenyang dan berdaulat di atas tanah sendiri.
• Sawit adalah Penjajahan Baru: Sawit datang dengan bibit asing dan pupuk kimia yang meracuni sungai kami. Sawit mengubah pemilik tanah ulayat menjadi buruh kasar di lahan yang dulu milik kakek-nenek mereka. Kami tidak bisa memakan minyak sawit saat lapar, dan kami tidak butuh biodiesel jika harganya adalah hilangnya dusun sagu kami!
Genosida Ekologi di Balik Kedok Energi Jangan membohongi dunia dengan narasi "ekonomi hijau". Menghancurkan hutan primer yang menyimpan karbon 10 kali lipat lebih besar dari sawit adalah kejahatan iklim. Jika bapak merampas hutan kami, bapak bukan sedang membangun Indonesia, bapak sedang merencanakan Genosida Ekologi. Bapak sedang mencabut akar identitas kami sebagai manusia Papua. Anak-anak adat Papua berhak mewarisi hutan yang utuh, bukan tanah gersang bersertifikat HGU korporasi. Kami menolak menjadi penonton sementara alat berat bapak meruntuhkan "Mama" kami.
Tuan Presiden, dengar suara dari rimba:
"Hutan Papua adalah harga mati. Jangan jadikan tanah kami tumbal bagi tangki bahan bakar kendaraan di Jakarta. Jika bapak terus memaksakan sawit, bapak tidak hanya menebang pohon, bapak sedang menancapkan nisan bagi masa depan anak-anak kami".
Papua Bukan Untuk Dijual. Hutan Kami Adalah Nyawa Kami!
• #SavePapuaForest: Menolak narasi "Sawit adalah Pohon" yang menyesatkan.
• #SaguOverSawit: Menekankan bahwa Sagu adalah kedaulatan pangan, Sawit adalah ketergantungan.
• #LiterasiAdat: Melindungi perpustakaan alam Papua dari ekspansi industri ekstraktif.