Politik Penyingkiran Sejarah: Posisi 1 Desember dalam Pembentukan Identitas Papua Kontemporer
Literasi Anak Papua– Bagi banyak orang Papua, tanggal 1 Desembe bukan sekadar hari dalam kalender. Ia adalah simbol sejarah, identitas, dan memori kolektif yang hidup dalam masyarakat. Namun di ruang-ruang pendidikan formal dan sudut-sudut informasi negara, tanggal ini jarang—atau bahkan tidak pernah—diajarkan sebagai bagian dari perjalanan sejarah Papua. Sebaliknya, mereka yang masih merawat ingatan tersebut kerap mendapat label negatif: ilegal, separatis, bahkan teroris.
Fenomena ini tidak dapat dilepaskan dari desain kurikulum yang seragam dari barat hingga timur, yang secara perlahan menghilangkan pengetahuan generasi muda Papua terhadap sejarah sosial-politik tanah kelahirannya.
Kurikulum Seragam dan Tergerusnya Identitas Melanesia
Para pemerhati pendidikan Papua menilai bahwa kurikulum nasional selama ini belum memberi ruang memadai bagi sejarah dan kebudayaan Papua dalam perspektif yang utuh. Banyak unsur sejarah lokal yang hilang, baik yang bersifat faktual maupun kultural. Ketika kurikulum tidak mengakomodasi narasi lokal, generasi Papua tumbuh dengan pengetahuan yang timpang: mengenal tokoh nasional, tetapi tidak mengenal tokoh adatnya sendiri; memahami perjuangan bangsa lain, tetapi kabur tentang peristiwa penting yang pernah terjadi di tanahnya. Bagi masyarakat adat Papua, alam pun mengingat. Ada kesadaran kultural bahwa tanah ini memiliki sejarah penjajahan, penyerahan, pengalaman politik, dan tanggal-tanggal penting yang hidup dalam ingatan komunal—meski tidak tercantum dalam buku pelajaran.

Lahirnya Perspektif A.S.U.T: Aspirasi Suara untuk Tuhan/Tanah
Dalam dinamika ini, muncul sebuah pendekatan pendidikan akar rumput yang diperkenalkan melalui gerakan Literasi Anak Papua. Gerakan tersebut menelurkan cara pandang yang mereka sebut A.S.U.T (Aspirasi Suara untuk Tuhan/Tanah). A.S.U.T bukan gerakan politik praktis, melainkan pendekatan literasi kritis yang bertujuan membangun kesadaran identitas generasi Papua dalam kerangka damai, reflektif, dan bingkai budaya Melanesia. Gerakan ini mengusung visi:
“Menjaga keunikan tanpa menghilangkan jati diri.”
Artinya, modernisasi dan integrasi nasional bukan alasan untuk mencabut identitas Melanesia yang sudah mengakar kuat dalam masyarakat Papua.
Edukasi Mindset: Merawat Memori, Membangun Kesadaran
A.S.U.T menekankan pentingnya pendidikan yang memberi ruang bagi sejarah, nilai, dan identitas Papua. Menurut penggerak gerakan ini, kurangnya muatan lokal dalam kurikulum mengakibatkan generasi muda tidak lagi memahami konteks sejarah yang pernah ada—padahal sejarah adalah fondasi pembentukan jati diri. Gerakan literasi seperti A.S.U.T mencoba mengisi kekosongan itu melalui ruang-ruang belajar informal: komunitas membaca, diskusi budaya, kelas literasi kritis, hingga dokumentasi sejarah lisan dari para tetua adat. Tujuannya bukan menciptakan konflik, tetapi membuka ruang edukasi yang berimbang agar anak Papua mengenali dirinya dengan lebih utuh. A.S.U.T percaya bahwa bangsa yang kuat dimulai dari generasi yang memahami sejarahnya sendiri.
1 Desember: Dari Ingatan Diam Menuju Kesadaran Baru
Tanggal 1 Desember tetap menjadi salah satu simpul identitas yang dihormati banyak orang Papua. Sekalipun tidak diajarkan secara formal dalam kurikulum, narasi tersebut hidup dalam keluarga, komunitas, dan ruang budaya. Gerakan A.S.U.T melihat momentum ini sebagai kesempatan melakukan edukasi, bukan agitasi; refleksi, bukan provokasi; penguatan identitas, bukan pengaburan sejarah. Dalam pandangan mereka, menghidupkan ingatan sejarah tidak harus berseberangan dengan negara. Justru negara dinilai perlu memberi ruang bagi narasi lokal agar tidak terjadi “putus generasi” dalam memahami jati diri Papua.