Pandang A.S.U.T: Mengentalkan Narasi Perlawanan Papua Terhadap Ketimpangan Otonomi Khusus
Republic Papua — Dalam kerangka A.S.U.T—Aspirasi, Suara, Ulasan, dan Tuntutan—muncul gerakan kesadaran baru masyarakat Papua yang menegaskan bahwa Otonomi Khusus bukan sekadar kebijakan administratif, tetapi ruang perjuangan untuk memastikan martabat, hak, dan kesejahteraan orang asli Papua benar-benar diwujudkan. Perlawanan yang dimaksud bukanlah kekerasan, melainkan perlawanan kesadaran, perlawanan intelektual, dan perlawanan partisipatif yang muncul dari pengalaman panjang ketidaksetaraan.

1. Aspirasi: Menolak Jadi Penonton di Tanah Sendiri
Dalam banyak diskusi komunitas, masyarakat menegaskan bahwa mereka tidak ingin Otsus hanya menjadi proyek politik elite. Aspirasi yang mengemuka adalah: Papua harus menjadi subjek, bukan objek. Aspirasi ini lahir dari pengalaman lapangan—dari kampung yang masih gelap tanpa listrik, sekolah yang kekurangan guru, hingga kantor distrik yang kekurangan layanan dasar. Masyarakat ingin agar Otsus tidak berjalan di atas kertas, tetapi menyentuh hidup mereka sehari-hari.
2. Suara: Perlawanan atas Narasi Tunggal
Masyarakat Papua semakin vokal menolak narasi tunggal dari pemerintah tanpa ruang dialog. Suara ini mengatakan:
“Kami tahu apa yang kami butuhkan. Dengarkan kami.”

Ini adalah bentuk perlawanan terhadap pola pembangunan yang sering top–down. Masyarakat ingin ruang bicara yang lebih luas untuk menentukan arah Otsus—mulai dari penentuan prioritas anggaran, rekrutmen tenaga lokal, hingga pengawasan proyek pembangunan.
3. Ulasan: Membongkar Ketimpangan secara Kritis Perlawanan juga muncul dalam bentuk ulasan kritis terhadap implementasi Otsus. Banyak aktivis, jurnalis lokal, dan pemuda mengidentifikasi persoalan seperti: • distribusi anggaran yang tidak transparan, • dominasi birokrasi kabupaten/kota oleh non-OAP, • minimnya efek langsung dana miliaran Otsus pada kesejahteraan masyarakat kampung. Melalui ulasan ini, tercipta perlawanan intelektual yang tidak bisa diabaikan.
4. Tuntutan: Mengembalikan Roh Otsus kepada Orang Papua Tuntutan paling keras yang muncul adalah mengembalikan Otsus ke spirit awalnya: pengakuan hak, perlindungan identitas budaya, dan peningkatan kesejahteraan OAP.
Tuntutan ini menegaskan bahwa Otsus tidak boleh hanya dilihat sebagai isu anggaran, tetapi sebagai komitmen negara terhadap keadilan bagi Papua. Narasi Perlawanan yang Menguat Narasi perlawanan Papua hari ini semakin solid, bukan dengan senjata, tetapi dengan kesadaran kritis, solidaritas komunitas, dan keberanian menyuarakan kebenaran. Perlawanan ini mengedepankan:
• perlawanan terhadap korupsi,
• perlawanan terhadap peminggiran OAP,
• perlawanan terhadap pembangunan yang tidak menyentuh rakyat,
• perlawanan terhadap birokrasi yang menutup ruang dialog,
• perlawanan terhadap penyimpangan makna Otsus.
Perlawanan ini menandai babak baru pendidikan politik di Papua:
Rakyat menolak diam. Rakyat membaca, memahami, dan menuntut haknya.
Repost : Ras Melanessian
All_in_about
Muhammad Ridwan Kambori (President Literasi Anak Papua)