Pancasila di Papua: Upacaranya Hafal, Silanya Absen

Pancasila di Papua: Upacaranya Hafal, Silanya Absen

"Ikut upacara tapi tidak paham." Kalimat ini bukan sekadar kritik, tapi tamparan keras buat kita semua. Jangan bangga dulu dengan formalitas baris-berbaris atau riuhnya baju adat setahun sekali, kalau di tanah Papua, dari 5 sila yang berdiri tegak cuma Sila ke-1: Ketuhanan Yang Maha Esa. Terlepas dari iman masyarakatnya yang kuat, 4 sila lainnya seringkali menguap jadi teks mati.

Kenapa kita bisa sekritis ini? Mari bicara data dan contoh nyata:

Sila 2: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab (Akses Kesehatan & Hak Hidup)

Bagaimana bisa bicara kemanusiaan yang beradab jika angka stunting dan gizi buruk masih membayangi anak-anak di pedalaman? Data Susenas menunjukkan potret layanan kesehatan yang belum merata. Contoh nyatanya, ketika puskesmas di distrik-distrik terpencil kosong tanpa dokter atau obat-obatan, hak dasar untuk bertahan hidup saja sudah timpang dibanding kota besar.

Sila 3: Persatuan Indonesia (Stigma vs Kesetaraan)

Persatuan itu dibangun pakai rasa aman dan kesetaraan, bukan paksaan. Faktanya, stigma negatif dan diskriminasi rasial terhadap orang asli Papua (OAP) di ranah publik maupun digital masih sering terjadi. Persatuan sejati tidak akan pernah runtuh kalau kita memperlakukan saudara kita sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar objek geopolitik.

Sila 4: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan... (Keputusan Top-Down)

Berapa banyak kebijakan atau proyek besar yang masuk ke tanah Papua tanpa benar-benar mendengar suara masyarakat adat? Konflik lahan dan tumpang tindih wilayah konsesi membuktikan bahwa mekanisme musyawarah untuk mufakat seringkali dilewati demi kepentingan investasi cepat. Suara akar rumput tenggelam oleh keputusan top-down dari pusat.

Sila 5: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia (Ketimpangan Nyata)

Ini potret yang paling ironis. Papua kaya raya dengan sumber daya alamnya, namun Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di beberapa wilayahnya masih berada di posisi terendah secara nasional. Ketimpangan harga logistik, kualitas fasilitas pendidikan yang njomplang, dan sulitnya akses internet/listrik di wilayah kerja remote membuktikan bahwa "Keadilan Sosial" belum sampai ke pelosok.

Pancasila itu bukan hafalan untuk syarat lulus ujian atau pemanis upacara bendera. Pancasila adalah janji kesejahteraan yang adil dari Sabang sampai Merauke. Kalau di Papua baru satu sila yang hidup, berarti Indonesia masih punya utang besar yang belum lunas.

#SuaraPapua #KeadilanSosial #PancasilaNyata #PapuaHariIni #KritikSosial