"Menolak Amnesia: Mengapa Konser Lebih Berisik dari pada Kasus 54 M?"

"Menolak Amnesia: Mengapa Konser Lebih Berisik dari pada Kasus 54 M?"
lustration - strategi

Tanah Papua hari ini sedang berdiri di persimpangan jalan antara tuntutan keadilan dan gemerlap panggung hiburan. Belakangan, publik di Kota Sorong dikejutkan dengan temuan dugaan penyelewengan anggaran sebesar Rp54 Miliar. Sebuah angka yang fantastis di tengah jeritan kebutuhan infrastruktur dan pendidikan dasar bagi anak-anak asli Papua. Namun, alih-alih mendapatkan transparansi, energi publik justru dikanalisasi ke arah lain.

​Ketika ancaman aksi massa mulai memuncak, sebuah fenomena menarik terjadi: munculnya agenda hiburan masif seperti Javan Festival. Secara sosiopolitik, ini bukanlah kebetulan belaka. Ini adalah manifestasi modern dari teori Panem et Circenses atau "Roti dan Sirkus". Penguasa menyediakan hiburan untuk menjinakkan nalar kritis rakyat agar mereka lupa pada urusan perut dan hak-hak dasarnya yang sedang dirampas. ​

Kaum muda, sebagai motor penggerak perubahan di Tanah Papua, kini menjadi target utama "depolitisasi". Mereka ditarik masuk ke dalam euforia festival agar kehilangan keterikatan emosional terhadap isu-isu strategis, mulai dari pengawasan anggaran daerah hingga pelanggaran-pelanggaran yang terjadi di atas tanah adat mereka. Hiburan masif ini berfungsi sebagai peredam (silencer) yang efektif. Ketika musik berdentum keras di panggung, suara-suara orator di jalanan menjadi sayup dan tak terdengar.

Kita harus jujur melihat bahwa polarisasi ini sengaja diciptakan. Di satu sisi, ada kelompok yang tetap berdiri pada garis perjuangan, namun di sisi lain, sebagian besar generasi muda kita digiring untuk menjadi penonton yang apatis. Jika literasi politik tidak segera diperkuat, maka setiap kali ada borok kekuasaan yang hendak meledak, mereka hanya perlu mendatangkan artis dan panggung megah untuk menutupinya. ​

Kita tidak menolak hiburan, namun kita menolak jika hiburan dijadikan alat untuk membungkam kebenaran. Literasi bukan sekadar mengeja huruf, melainkan kemampuan membaca pola di balik kebijakan. Anak Papua harus tetap terjaga, meski di tengah riuhnya pesta.

​Catatan Kaki (Footnotes):

• ​M. Ridwan Kambori adalah Presiden Literasi Anak Papua, sebuah gerakan yang berfokus pada penguatan kapasitas intelektual dan kesadaran kritis generasi muda di Tanah Papua terhadap isu-isu energi, geopolitik, dan hak-hak dasar.

• ​Temuan 54 M Kota Sorong merujuk pada dugaan kasus penyalahgunaan dana hibah atau anggaran daerah yang menjadi sorotan publik dan memicu keresahan sosial di wilayah tersebut pada medio 2026.

• ​Javan Festival dalam konteks ini dipandang sebagai instrumen pengalihan perhatian publik (distraction tool) yang dilaksanakan bertepatan dengan momentum eskalasi tuntutan transparansi hukum.

• ​Strategi Sirkus (Bread and Circuses) adalah taktik politik klasik untuk menjaga kepatuhan rakyat melalui pemenuhan kebutuhan dangkal dan hiburan masif guna menjauhkan mereka dari pengawasan terhadap kebijakan pemerintah.

• ​Isu Strategis Nasional di Papua mencakup pembahasan mengenai otonomi khusus, perlindungan masyarakat adat, kedaulatan energi, hingga penuntasan kasus-kasus pelanggaran hak yang seringkali tertutup oleh narasi pembangunan fisik dan hiburan.

Oleh: M. Ridwan Kambori-Presiden Literasi Anak Papua