Ironi Latihan Militeristik: Antara Nasionalisme dan Realitas "Asal Bapak Senang"

Ironi Latihan Militeristik: Antara Nasionalisme dan Realitas "Asal Bapak Senang"

Saat ini, begitu banyak elemen sipil—mulai dari CPNS (Latsar), penerima beasiswa LPDP, pimpinan daerah, hingga pegawai BUMN—yang diwajibkan menjalani pembekalan semi-militer. Alasan klasiknya selalu sama: membangun nasionalisme, memperkuat disiplin, dan membekali diri demi bangsa. Namun, ada ironi besar di balik itu semua. Di lapangan, kita justru kerap disuguhi fakta pahit.

Oknum-oknum yang lahir dari sistem atau lingkungan berlatar belakang militeristik/aparat ini tidak jarang terseret dalam kasus-kasus hukum berat: mulai dari penyiraman air keras, kekerasan fisik, penembakan, hingga kasus pembunuhan. Doktrin kedisiplinan yang digembar-gemborkan seolah menguap begitu saja. Bahkan, pucuk pimpinan tertinggi di negara ini, termasuk posisi Presiden, sering kali didominasi atau terafiliasi erat dengan lingkaran mereka. Akibatnya, rantai instruksi bergerak dalam siklus yang tertutup:

"Dari mereka, oleh mereka, dan untuk mereka".

Operasional di lapangan tidak lagi didasarkan pada profesionalisme atau kepentingan publik, melainkan sekadar menjalankan perintah demi kultur kuno yang merusak:

"Asal Bapak Senang" (ABS).

Sebuah realitas yang ironis, ketika rakyat disuruh berdisiplin militer, sementara oknum di atas sana sibuk mengamankan posisi dengan kepatuhan buta.