Hegemoni dan Hiburan: Membaca Ulang Strategi Pengalihan di Papua
Di seluruh Tanah Papua, turnamen demi turnamen digelar seolah menjadi perayaan persaudaraan dan sportivitas. Namun di balik gemuruh tepuk tangan dan sorak penonton, ada agenda yang lebih senyap dan sistematis — menjaga kestabilan wajah politik di hadapan pejabat Jakarta. Turnamen bukan lagi sekadar olahraga; ia berubah menjadi alat pengalih pandangan rakyat dari luka lama yang belum sembuh. Pemuda dan pemudi Papua diarahkan untuk sibuk mengejar piala, bukan kebenaran. Mereka dibuat larut dalam euforia pertandingan, sementara tanahnya terus dieksplorasi dan suaranya terus diredam. Di balik papan skor dan jersey tim, ada strategi halus: menutup ruang berpikir kritis, menenggelamkan nurani kolektif.
Tanggal 1 Desember, yang bagi banyak hati Papua adalah hari refleksi dan kesadaran sejarah, sengaja diganggu dengan agenda siluman. Saat rakyat seharusnya mengenang perjalanan dan penderitaan panjang bangsa ini, mereka justru diajak bertepuk tangan di lapangan. Festival, turnamen, dan konser menjadi topeng stabilitas; sebuah cara baru untuk membungkam kesadaran dan menunda pertanyaan tentang hak menentukan nasib sendiri. Gerakan A.S.U.T melihat fenomena ini bukan sekadar kebetulan, tetapi bagian dari pola kolonialisme baru — yang tak lagi datang dengan senjata, tapi dengan hiburan dan penghargaan palsu.
Kini, perlawanan tidak hanya berarti turun ke jalan, tapi juga menjaga pikiran agar tak tunduk pada strategi pengalihan. Kesadaran adalah bentuk perlawanan pertama. Dan hari ini, melawan bukan hanya berbicara tentang senjata, tapi tentang kesediaan untuk tidak lupa — bahwa tanah ini pernah dan masih berteriak: kami ingin menentukan nasib kami sendiri.
🜂 Tentang Penulis: A.S.U.T (Aspirasi Suara untuk Tanah/Tuhan) adalah gerakan literasi dan kesadaran sosial yang lahir di Tanah Papua, berfokus pada upaya membangun kesadaran rakyat melalui tulisan, refleksi, dan aksi kultural.