Budaya Aranday Kian Terpinggirkan di Tengah Perayaan HUT, Tari Khas Mulai Ditinggalkan
Tradisi dan budaya khas Aranday seperti Tari Pangayung, Titimbar, Manari, dan sejumlah kesenian lokal lainnya kini berada di ambang kepunahan. Fenomena ini terjadi seiring bergesernya minat generasi muda yang semakin mengadopsi tarian dari daerah lain. 12|08|25
Ironisnya, dalam berbagai ajang lomba yang diselenggarakan di tanah leluhur Aranday, tarian dari luar justru menjadi yang utama dipertontonkan, sementara warisan budaya asli jarang ditampilkan. Situasi ini menimbulkan keprihatinan mendalam di kalangan pemerhati budaya dan tokoh masyarakat setempat.

“Kami mengapresiasi semangat generasi muda dalam memeriahkan HUT, namun sangat disayangkan ketika perayaan tersebut tidak memberi ruang yang layak bagi tari-tarian asli Aranday. Ini bukan sekadar hiburan, tetapi soal identitas dan jati diri,” ungkap president Literasi Anak Papua M.R.K
Budaya Aranday memiliki nilai sejarah, filosofi, dan pesan moral yang diwariskan dari generasi ke generasi. Tari Pangayung, misalnya, sarat akan makna kebersamaan dan gotong-royong, sementara Titimbar dan Manari mengandung simbol penghormatan kepada alam dan leluhur. Pemerhati budaya mengingatkan, jika tren ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin generasi mendatang hanya akan mengenal tarian Aranday dari arsip foto atau cerita lisan.
Masyarakat dan generasi muda diharapkan dapat mengembalikan semangat untuk melestarikan budaya asli, sekaligus mengadaptasikannya agar tetap relevan di era modern. Perayaan HUT dan kegiatan seni di Aranday diharapkan menjadi panggung utama bagi kesenian lokal, bukan hanya ajang mengadopsi budaya luar.
Aranday adalah salah satu wilayah di Papua Barat yang kaya akan warisan budaya dan seni tradisional, dengan ragam tarian, musik, dan ritual yang memiliki nilai sejarah tinggi.